Arsip

Archive for the ‘touring’ Category

SHORT TRIP: Menikmati  Indahnya Kota Batu dan Sekitarnya Ketika Pagi Buta Dari Atas Gunung Banyak

21 Februari 2015 5 komentar

22 Februari 2015 pukul 18.54 ide tersebut datang begitu tiba-tiba. Ketika salah seorang temen sunda ane A’ Agus pengen melaksanakan hajatnya untuk bisa nge-trip ke Paralayang. Memang paralayang merupakan salah satu wisata yang banyak diminati oleh pemuda pemudi masa kini untuk menghabiskan malam dan dini hari mereka diatas Gunung Banyak dengan temen, sahabat, calon istri, calon mertua hahaha 😀 yang terakhir becanda gan.

PANO_20150221_053329[1]

Salah satu daya tarik lain wisata paralayang selain muter muter diatas kota Batu menggunakan layang-layang 🙂 yaitu pemandangananya yang wow gaes. Kita bisa menikmati view kota Batu dan Malang yang saik tentunya dari atas Gunung Banyak. Kalo pas siang sih viewnya biasa aja tapi pas malem dan dini hari beehh.. aje gile sangar, saik, wonderful banget gaes. Kelip kelip lampu kota batu dan sekitarya itu loh yang menambah kesan kerennya.

Dengan rencana yang sedikit mendadak, kita berlima , ane, akang Agus, Akang Bagus, Akang saif, dan satunya mas taufik harus rela memangkas waktu tidur dan bangun jam 2 pagi untuk bisa qiyamul lail dahulu sebelum meluncur ke Paralayang. Jam 02.25 tet kita semua berangkat dengan awan kinton   naik tiga buah sepedah motor. Dinginnya angin malem itu tidak mengurangi semangat ane dan yang lain untuk terus menggeber sepedah motor diatas jalanan menuju Kota Batu yang pagi itu masih sangat sepi.

IMG_20150221_050722[1]

Setelah sempet salah jalan karena akang Bagus sebagai guide lupa rutenya, serta sempet juga di tengah perjalanan di stop bapak bapak bermantel hitam. Pertama agak keder juga kirain mau apa? Ternyata nawarin kamar villa :). Jam 03.40 akhirnya sampai juga di Gunung Banyak seteah sebelumnya harus membayar retribusi karcis Rp.5.000 ditambah Rp.5.000 untuk biaya parker.

Setelah itu kami bergeser ke tempat orang orang melakukan lompat bunuh diri untuk terjun payuing soalnya, ditempat tersebut kita bisa menonton view Kota Batu dan sekitarnya dengan warna warni lampu yang menghiasi tanpa ada gangguan dari pohon pohon pinus. Satu jeperetan awal untuk mengabadikan pemandangan yang indah ini. Kemudian berlanjut ke jepretan kedua ketiga dan seterusnya.2015221044953[1]

Ketika adzan subuh menggema di Kota Batu sebagai pemuda muslim yang baik kami berlima menunaikan ibadah sholah fardhu subuh di musholla yang masih dalam kawasan wisata Omah Kayu atau Paralayang. Setelah itu dilanjut duduk manis ketempat semula untuk menunggu terbitnya sang mentari. Beberapa puluh menit kemudian barulah nampak sebersit cahaya dari arah timur. Sembari menunggunsun rise seperti kebanyakan pemuda sekarang lakukan yaitu potret sana potret situ, potret ini potret itu, ditambah satu lagi biar afdol yaitu selfie dengan tongkat narsis bekal dari kontrakan dengan berbagai pose dan gaya.

Tidak hanya kami berlima yang ingin menikmati pemandangan indah ini. Ada banyak kelompok pemuda pemudi yang juga sibuk potrat potret untuk mendapatkan hasil jepetan yang oke dengan kamera smartphone mereka bahkan ada yang membawa kamera DSLR. Sunrise pun tiba secepatnya pencet kamera langsung jepret denan berbagai mode dan angle yang berbeda.

C360_2015-02-21-03-48-12-951[1]

Sekitar pukul 06.00 kami berlima memutuskan untuk kembalike Kota Malang karena ada beberapa dari kami ada banyak agenda pagi itu. Ada banyak hal yang ane dapetin dari short trip kali ini mulai dari pemandangan yang nais banget  sampai flu akibat terpaan udara dingin sewaktu melaju diatas jalanan Kota Batu  dan angin dingin yang lumayan  di atas Gununug Banyak namun walaupun demikian ane sangat senang dengan short trip kali ini.

HASil JEPRETAN YANG LAIN:

Iklan

Turing Pendek : Muter-Muter Kuto Tuban

17 Januari 2014 3 komentar

pagi itu, Kamis (02/01/2014) kami (ane dan adek ane) bersiap untuk menjelajahi kota Tuban. jauh jauh hari ane sudah berencana untuk melakukan touring pendek mengelilingi kota Tuban jauh hari sebelumnya. Nah bertepatan musim liburan habis UAS pertama sekaligus untuk menuntaskan rasa penassaran ane terhadap kota kelahiran, ane dan adek ane sebenarnya memilih tanggal 1 januari namun si emak nglarang, ya uda deh manut dengan omongan si emak. akhirnya  baru hari esoknya Kamis ane berangkat.

keluar kecamatan soko

keluar kecamatan soko

kami mulai berkendara diatas motor bebek supra 125R menelusuri jalanan desa yang terlihat sudah berlubang  juga area persawahan yang rusak parah akibat dari banjir. kami memilih rute yaitu melewati Kec. Rengel- Kec.Plumpang-Kec.Semanding-Kota Tuban

kurang lebih sekitar 45 perjalanan kami sampai di Kota Tuban, dan berhenti di salah satu SPBU karena si Bebek minta minum. kemudian perjalanan berlanjut menuju Masjid Agung Tuban.

Foto ke(169)

Masjid Agung

Subhanallah. baru seumur ini ane bisa melihat langsung megahnya Masjid Agung Tuban yang menurut ane wow banget. dulu ane hanya bisa melihat dari sampul buku PAI waktu SMP namun alhamdulillah salah satu impian saya telah terwujud yaitu bisa melaksanakan sholat dan berfoto di Masjid Agung Tuban ini. setelah melakukan sholat dhuha dan berfoto ria di area Masjid. perjalanan kami pun dilanjutkan menuju Terminal Tuban, yang katanya sih terkenal indah soalnya berdiri di pinggir laut.

Foto ke(173)

Terminal Tuban

oh ya nawak di terminal Tuban ini juga ada semacam wisata gitu entah namanya apa ane lupa xixixixixi 🙂 🙂 🙂 seinget ane ada jalan yang dibuat dekat dengan laut sehingga kita bisa melihat indahnya. dan jalan ini berada di luar areal terminal. banyak pasangan remaja yang terlihat duduk santai dengan menikmati pemandangan laut. setelah dirasa cukup perjalanan kami pun berlanjut.

Foto ke(186)

Nah ini dia nawak salah satu tempat wisata yang juga terkenal di Kota Tuban yaitu Pantai Boom. ini kali ke dua ane maen ke pantai boom lagi seinget ane pertama kali ane maen kesini yaitu pas masih Tk yang waktu iyu ada rekreasi. yah terbilang sangat lama lah. dan ini merupakan salah satu tempat wisata yang unik bagi ane karena harga tiket lebih murah dibandingkan biaya parkir. coba bayangkan nawak harga tiket per orang yaitu Rp.1.500 sedangkan biaya parkir per motor sebesar Rp.3000(bisa buat beli tiket 2 orang hehehehe 🙂 🙂 ) di wisata ini lumayan nyawan karena adanya semacam bangunan seperti pos ronda yang dimanfaatkan para pengunjung untuk duduk santai  sambil menikmati pemandangan laut pantura ini. terlihat juga banyak para pemancing yang memasang kail pancingnya disini. hampir kurang lebih kami nongkrong disini suara deburan ombak dan terpaan angin semilir membuat kami enggan beranjak dari tempat itu.

Foto ke(188)

Lun Alun Kota Tuban

jam hape nukiyem menunjukan pukul 13.11, kami harus beranjak dari tempat itu untuk absen sholat Dzuhur dulu di Masjid Agung Tuban, namun ada baiknya jika kami mengisi perut kami yang mulai memberontak. untuk mengganjal perut akhirnya kami membeli cilok (pentol) didepan pintu masuk. mencari tempat nyaman makan cilok kami merapat ke alun-alun kota Tuban sambil berteduh dibawah rindangnya pohon beringin alun-alun kota.

Foto ke(189)

Goa Akbarr cuy!

setelah nyontreng absen sholat dzuhur di Masjid Agung Tuban, kami berinisiatif untuk mampir ke Goa Akbar terlebih dahulu sebelum meluncur pulang. tidak lumayan jauh jarak antara Masjid Agung dengan wisata alam Goa Akbar kira-kira 3-4 km lah. tiket masuk Goa Akbar terbilang sangat terjangkau cuman dengan uang Rp.4.000 kita bisa bertamasya mengelilingi Goa Akbar. emang bener kalau orang nyebut kota Tuban sebagai kota seribu goa mungkin goa akbar ini salah satunya. di dalam Goa akbar terdapat sumber air asli loh nawak! bisa diminum sih tapi kami hanya membasuh muka saja kagak berani nyoba minum.oh iya kalo ingin masuk ke goa akabar ane himbau pakai masker atau penutup hidung karena ada salah satu tempat di Goa Akbar yang terdapat sarang kelelawar  yang bau kotorannya bikin mual perut.

Foto ke(183)

ini merupakan kali pertama kami melakukan touring pendek biasanya setiap touring kami selalu di barengi sama kang Heri Setiawan  seperti touring kami tahun lalu di bendungan gerak dan air terjun nglirip. namun di touring kali ini ane melupakan untuk sowan ke  tempat peristirahatan eyang bonang. mungkin itu akan menjadi agenda di touring selanjutnya. jadi nantikan ceritanya saja nawak!!!

baca juga nawak :

Akhirnya Bisa Rilis Juga :Cerita Ane Pas KKL I @Bromo

22 November 2013 2 komentar
KKL I GEOGRAFI UM 2013 OFF G

KKL I GEOGRAFI UM 2013 OFF G

Mumpung lagi ada waktu luang ples kosong nih nawak gara gara dosen lagi ada keperluan mendadak dan juga mumpung masih ada sedikit  ingatan di memori otak ane  tentang KKL I yang sudah lewat sebulan lalu.  Yupz nawak, di coretan kali ini ane ingin bagi bagi duit pengalaman ane waktu KKL I kemaren. Pasti bagi nawak yang pernah makan bangku kuliah tahu apa itu KKL? Bener sekali KKL itu merupakan kuliah kerja lapangan, semacam praktik di lapangan gitu, kalo di SMA  ato SMP biasanya disebut Study Tour.

persiapan berangkat KKL I

persiapan berangkat KKL I

Di KKL I ini tujuannya hanya tahap pengenalan saja jadi lebih banyak nuansa rekreasinya ketimbang kuliahnya,  dan itu yang membuat kami senang hehehehehe…….. 🙂 🙂 :), banyak sekali tujuan tempat tempat yang kudu di kunjungi di KKL I kali ini,  semua tempat yang di kunjungi  mempunyai banyak kaitan dengan geografi  dan kita tahu geografi itu identik dengan alam jadi tempat yang kita kunjungi pun  memiliki pemandangan yang mantap jaya hahahaha 😀 😀 😀 .

goa tetes

goa tetes

hati hati nawak jalan terjal

hati hati nawak jalan terjal

subhanallah

subhanallah

Tempat yang pertama ane kunjungi yaitu Goa Tetes yang terletak di desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo jarak tempuh dari kota Lumajang 55 Km ke sebelah Selatan. Mungkin Nawak pernah denger ato malah udah pernah kesana? Pokoknya dijamin mantap deh nawak, gua  ini terletak di sebuah lembah so kalau kita ingin melihat keindahan panorama goa tetes ini kita harus turun lembah ± 1 Km yang wow banget terjalnya, maka dari itu ane dan manteman sangat hati-hati ketika menuruni anak anak tangga yang terbuat dari tanah yang dicangkul membentuk anak tangga . Namun semua itu akan terbayar lunas ketika suara gemericiknya air mulai terdengar, air yang jernih mengalir menutupi goa tetes tersebut.dan juga tebing tebing yang berwarna hijau dan kuning karena mengandung FE (besi) akan memanjakan mata kita. Namun ane enggak berani turun lebih dekat lagi soalnya takut terpleset karena tanah di situ licin sekali jadi ane cuman bisa nonton manteman yang lagi maen air.

jembatan Gladak Perak Yang Dibangun Pada Masa Kolonial belanada

jembatan Gladak Perak Yang Dibangun Pada Masa Kolonial belanada

Jembatan Gladak Perak Yang Baru

Jembatan Gladak Perak Yang Baru

Peyanggan Jembatan Gladak Perak

Peyangga Jembatan Gladak Perak

Setelah menikmati indahnya Goa Tetes perjalanan pun dilanjutkan menuju Gladak Perak. Gladak Perak merupakan nama sebuah jembatan yang menghubungkan Lumajang-Malang.  Ada yang unik nih nawak dari jembatan Gladak Perak ini, Kata dosen ane  kenapa dinamai Gladak Perak,yang pertama kata Gladak digunakan karena jembatan ini terbuat dari papan-papan kayu sehingga jika ada kendaran yang melewati  jembatan tersebut akan berbunyi “ Gladak………Gladak…….Gladak”  Terus kata Perak dipakai karena penyangga jembatan ini terbuat dari besi-besi yang berwarna perak (namun sekarang warnanya coklat soalnya sudah karatan hehehehe……. 🙂 🙂 ) dan juga jembatan ini dibangun pada masa kolonial belanda. oh iya nawak disamping jembatan Gladak Perak  dibangun jembatan baru yang tak kalah indah yang terbuat dari beton untuk menggantikan jembatan Gladak Perak yang sudah uzur (kewut=tua) namun nama jembatan baru tetap Gladak Perak juga.

observasi di pantai watu pecak

observasi di pantai watu pecak

manteman di pantai watu pecak

manteman di pantai watu pecak

numpank nampank, nawak hehehehe :)

numpank nampank, nawak hehehehe 🙂

Tempat yang ketiga juga masih di sekitaran Kab. Lumajang yaitu Pantai Watu Pecak yang terletak di desa Selok Awar-awar, kecamatan Pasirian, 18 Km arah selatan dari kota Lumajang. Sebelum melakukan pengamatan di watu pecak disitu kami makan siang dulu untuk men-charge energi, setelah energi fit kami kembali berjalankaki menelusuri  persawahan untuk menuju pantai watu pecak. Mungkin pantai ini merupakan ane bagi ane karena apa? Masak daerah pertanian deket pantai? Tapi itulah kenyataannya “Subhanallah” gelombang –gelombang di pantai watu pecak lumayan besar waktu itu jadi kami di himbau agar berhati-hati jika mendekati pantai. Pantai watu pecak mempunyai sesuatu yang unik yaitu pasirnya bewarna hitam. Dosen ane kate kalau pasir di pantai watu pecak ini banyak mengandung ferum (besi) sehingga disini banyak sekali terlihat karung-karung yang berisi pasir dan juga kendaraan yang mengangkut pasir. Keburu sore akhirnya perjalanan pun di lanjut menuju Ranu Klakah (Danau Klakah) (ye………\(m)/)

SUbhanallah

Subhanallah

nampank di ranu klakah

nampank di ranu klakah

so beautipul

so beautipul

 

Dalam perjalanan menuju Ranu Klakah kami rombonganberhenti sejenak di Masjib Besar Daarussalaam Kec. Tempeh Kab. Lumajang untuk absen sholat dhuhur sekaligus Ashar (Sholat Jama’) kemudian perjalanan di lanjutkan, namun waktu itu cuaca tak mendukung  gerimis mulai turun dan lama kelamaan mulai deras , karena penat di perjalanan ane tertidur, kurang lebih jam setengah enam petang kami sampai di Ranu Klakah yang masih berda di Kab. Lumajang. Sebagai tempat wisata, Ranu Klakah mempunyai sejuta keindahan seperti danau yang  jernih  yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk budidaya ikan mujair dan ikan nila,dan yang paling menakjubkan di temat wisata ini yaitu Ranu Klakah dengan background Gunung Lamongan. O iya kalo nawak mau nginep disini ada penginapanya atau kalau mau main di danau disini juga disediakan penyewaan gethek (perahu dari bambu) maupun speed boat. Karena sudah terlalu malam Perjalanan di lanjut ke Bromo.

Dalam perjalan menuju Bromo ane tidak bisa bercerita  banyak soalnya kondisi badan yang capek +pegel di perjalan ini ane tidur lagi, dan terbangun ketika sudah sampai tempat menginap di Balai Desa Ngadisari  Kec. Sukapura Kab. Probolinggo, sebelum merebah diri kita rombongan mengisi perut dengan soto ayam hangat yang disediakan oleh panitia komsumsi, baru setelah itu melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim yang taat yaitu Sholat Maghrib dan Sholat Isya’ dan baru kemudian tidur tak lupa pakai jaket +3 kemeja+1 Kaos+ Sarung Tangan tebel+ Penutup Kepala (Kupluk)+2 Kaos Kaki soalnya duiiinggggiiiiiiinnn pake bangeeeeeeeet berberbrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!.

Nakam soto ayam dulu nawak

Nakam soto ayam dulu nawak

Penginapan ane

Penginapan ane

tidur...tidur nawak

tidur…tidur nawak

numpank nampank sebelum naik jeep

numpank nampank sebelum naik jeep

jeep yang ane tebengi

jeep yang ane tebengi

 

Dan jam satu pagi ane dan manteman sudah bangun guna mempersiapkan perbekalan mulai dari air minum dan lain sebagainya, kami semua berkumpul di kantor kepala desa untuk menunggu jeep yang akan kita tumpangi menuju Pananjakan yang merupakan tempat favorit bagi wisataman Bromo untuk menikmati indahnya sun rise. Setelah menunggu sampai pukul  3 pagi kemudian ane berankat dengan manteman menaiki jeep yang telah di sewa panitia (untuk ongkos penyewaan jeep ane kagak ngarti berapa? Coba tanya panitia saja hehehehe 🙂 🙂 :)) sesampai di sana kita berjalan kaki naik gunung guna sampai di pananjakan tuk melihat indahnya sun rise, setelah sampai kami pun duduk-duduk sembari menunggu sang Mentari muncul, tak lama kemudian cahaya ufuk fajar mulai terlihat dan selang beberapa menit kini sang mentari yang menampakan  dirinya “Subhanallah sungguh menakjubkan Ciptaan Mu Ya Allah”

hasil ngejepret ane

hasil ngejepret ane

mantap

mantap

akhi fajri

akhi fajri

nampank lagi

nampank lagi

Subhanallah

Subhanallah

 

 

Tak lupa kami mengabadikan moment demi moment ketika matahari terbit dengan kamera kami ada yang kamera ponsel, kamera digital (kamera ane yang minjem dari akhi Agus), maupun kamera SLR,  setelah di rasa cukup dan matahari sudah semakin panas akhirnya kami rombongan turun untuk naik jeep menuju Kaldera Bromo atau yang lebih terkenal Lautan Pasir Bromo. Oia nawak sekedar inpo Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Dan juga Bromo dianggap sebagai  gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.(sumber : wikipedia)

poto bromo dari pananjakan

poto bromo dari pananjakan

hasil jepretan ane

hasil jepretan ane

 

hasil jepretan ane

hasil jepretan ane

Picture15

duduk duduk nunggu sun rise

Namun sialnya ane kagak bisa naik ke uncak Bromo di karenakan ane kelupaan kagak pake masker dan juga waktu yang terbatas karena harus kembali ke Kantor Kepala Desa Ngadisari guna sarapana pagi dan melakukan wawancara tentang kondisi sosial masyarakat di Desa Ngadisari, kahirnya kami rombongan kembali ke Kantor Desa setelah Berfoto-foto narsis di sekitar Bromo.  Sebelum wawancara terkebih dahulu kita evaluasi bareng dosen baru setelah itu wawancara. Setelah wawancara selasae di lakukan  kita berkemas-kemas untuk persiapan pulang,  setelah Dzuhur kami rombongan bergegas pulang menuju Malang. (Bye-Bye Ngadisari We Will Miss U)

narsis sama manteman di gunung batok

narsis sama manteman di gunung batok

gambar gunung  batok

gambar gunung batok

Bromo

Bromo

Seperti perjalanan sebelumnya di perjalanan pulang pun ane tertidur soalnya mata ini gak kuat buat diajak melek, dan ketika bangun ane sudah sampai Singosari, Malang dan waktu itu sedang hujan so ketika sampai di Universitas tercinta Uiversitas Negeri Malang ane harus rela maen ujan-ujanan sambil jalan kaki menuju kontrakan ane di Sumbersari.

Bromo

Bromo

Waduh gak terasa ya nawak banyak bener cerita ane moga nawak-nawak kagak bosen membacanya, dan semoga pengalaman ane ini sedikit banyak memberi paedah buat nawak . amiiin

bonus pict :

hasil jepretan ane

hasil jepretan ane

baca juga nawak :

Ngluyur ke air terjun nglirip dan bendungan gerak

3 November 2012 5 komentar

Ahad, 28 Oktober 2012 merupakan hari dimana touring kedua ane bertepatan dengan liburan idul adha . kalau dulu touring pertama ane ke kota ledre dengan tujuan wisata ke waduk pacal dan khayangan api. Sedangkan untuk  touring kedua ane akan berkunjung ke salah  satu tempat wisata yang terletak di kota bumi angling dharma Bojonegoro. Namun bukan di khayangan api maupun di waduk pacal seperti touring pertama ane, tetapi di salah satu tempat wisata yang  juga terletak di bojonegoro dan di Tuban. Yang bikin beda dari touring kali ini yaitu kita mempunyai 2 tujuan wisata yang dua-duanya terletak di kabupaten yang berbeda, yaitu tuban dan  bojonegoro.

Dua tujuan yang akan kita tempuh yaitu : yang pertama air terjun nglirip, yang terletak di kec. Singgahan kab. Tuban. Dan tujuan yang kedua yaitu bendungan gerak yang ada di kec.Kalitidu kab.Bojonegoro. karena dua tujuan itu membuat kami berangkat lebih pagi, oh…ya…, di touring kali ini kita ketambahan personil, jika dulu touring pertama ada kang heri+istri, dan ane+ adik ane sekarang ditambah kakak perempuan ane+ suami.

indahnya sumber mata air krawak

Setelah semua perlengkapan selesai, Jam 07.15 kami berangkat dan bersiap untuk membelah jalan raya. Kang heri  berada di depan soalnya motor pulsarnya dilengkapi GPS  yang akan memandu kami semua menuju ke tempat tujuan, di nomor dua ada kakak ipar ane mas hardi dengan Honda supra 125R merahnya, dan yang terakhir ada ane dengan sang creator (nama motor bebek Honda 125R warna putih ane). Tujuan yang pertama yaitu ke air terjun nglirip. Jarak yang ditempuh lumayan jauh , kami harus melewati beberapa pasar tradisional, sekolah, dan berbagai sarana umum untuk menuju air terjun nglirit, dan juga di sekeliling jalan yang kami lalui selalu memberikan pemandangan yang “wow” banget.

Namun Kami harus waspada soalnya banyak juga belokan tajam dan tanjakan maupun turunan yang curam dalam rute yang kami lalui. Dari belakang ane tengok kang heri berhenti berarti pertanda kita telah sampai di  air terjun nglirip, namun ketika ane liat-liat sekeliling, ane tak menjumpai air terjun maupun mendengar suara dari air terjun. Kemudia kang heri bertanya-tanya kepada salah  satu warga sekitar untuk menanyakan hal tersebut. Dari percakapan tersebut diketahui bahwa wisata air terjun nglirit  ditutup sementara waktu soalnya debit air yang berkurang yang menyebabkan air tidak mengalir untuk membuat  air terjun.

Agar tidak datang dengan sia-sia kang heri mengajak kami untuk mengunjungi sumber mata air yang tidak terlalu jauh dari lokasi air terjun nglirit. Kemudian kami menyalakan mesin motor kembali dan bergegas pergi dan akhirnya sampailah kita semua  di sumber mata air yang terletak disebuah hutan yang rindang . kemudian kami membeli karcis seharga rp.3000 harga tersebut sudah termasuk tiket masuk. memang benar di tempat ini air mengalir dari sebuah lubang yang ada di kali tersebut sehingga membuat aliran air yang panjang yang akan membuat air terjun, namun karena masih kmusimkemarau air yang mengalir tidak terlalu deras. Disini mata kita akan dimanjakan dengan pesona alam yang ada, hutan yang rindang, air yang jernih sungguh memukau setiap mata yang memandang. Tidak hanya itu Ternyata banyak juga warga sekitar yang menjalani aktifitas sehari seperti mencuci dan mandi disumber mata air ini yang terkenal dengan sumber mata air krawak.

Tak lupa kami pun berfoto ria untuk mengabadikan momen indah ini sambil sesekali main air yang sangat jernih tersebut yang jelas beda banget dengan sungai bengawan solo yang ada di desa ane yang warnanya keruh he…..he…….he……., bahkan kedua keponakan ane Rama dan Bima juga malah bugil untuk mandi di kali yang jernih itu. Setelah semua puas bermain air kami semua bersepakat  untuk menuju ketempat wisata yang kedua yaitu bendungan gerak di kab.Bojonegoro.

Kami pun harus kembali merasakan kelokan-kelokan, tanjakan, dan turunan untuk menuju ke kota bojonegoro, setelah menempuh jarak kurang lebih 40 KM akhirnya kami sampai di sebuah bangunan yang megah dan terdapat sebuah jembatan yang lebarnya kurang lebih 3m dan panjangnya kurang lebih 150m  yang membentang diatas sungai terpanjang di jawa(bengawan solo). Dengan penuh rasa heran dan kagum Kami semua pun melintasi jembatanyang indah tersebut ,ane sendiri gak nyangka kalau ada bangunan seperti ini di kabupaten bojonegoro.

Setelah asyik bersepeda sambil lihat-lihat dari atas jembatan, kami semua turun ke bawah jembatan untuk melihat lebih jelas tanggul dan beton-beton yang berdiri kokoh untuk membendung air bengawan solo itu. Tak di sangka juga ternya banyak juga pengunjung yang datang kesini, terlihat sekali banyak mobil dan motor yang diparkir di bawah jembatan. Oh ya  untuk masuk di wisata ini tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Bendungan yang baru di resmikan oleh kang yoto (bupati bojonegoro) pada tanggal 16 oktober 2012 yang berarti 12 hari sebelum  kita berkunjung dan Peresmian tersebut mengundang  wali band dan juga beberapa artis lokal.

Sama seperti di nglirip, disini kami berpose untuk berfoto-foto dengan bendungan sebagai backgroundnya.  Di sekitar bendungan  juga terdapat tenda-tenda para pedagang yang mereka bangun untuk menjajakan makanan mereka kepada para pengunjung yang datang kesini. Setelah asyik foto sana-sini, ini dan itu kami berencana pulang dikarenakan matahari semakin terik bersinar.  Motorpun kembali kami pacu suara deruan 3 motor menambah asyik suasana , tapi tunggu dulu sebelum pulang kang heri mengajak rombongan untuk mengisi perut di sebuah warung bakso di kota bojonegoro.Baru setelah bersantap ria  dan perut terisi kami pulang kerumah.

Nglayap nang khayangan api karo nang waduk pacal

20 September 2012 5 komentar

Izinkan ane lur, tuk berceloteh tentang touring ane di hari h+1 lebaran, ane bersama kakak  ane (kang heri setiawan) mempunyai rencana melakukan touring untuk sekedar melepas penat setelah seharian kemarin keliling kampung hanya untuk sekedar bersalaman dan mohon maaf kepada tetangga-tetangga. Setelah  disepakati bahwa kita akan berpetualangan di bumi angling dharma (bojonegoro) karena di kota tersebut denger-denger sih ada wisata khayangan api sama wisata waduk pacal. Setelah semua siap, kami berangkat menggunakan motor masing-masing, kang heri bersama anak dan istri menunggangi sang milestone-nya (sebutan untuk motor bajaj pulsar kang heri) sedangkan ane sama adik ane menunggangi  motor bebek Honda supra X 125 R alias sang creator, namun sayang untuk kakak ane yang perempuan kagak bisa ikut, katanya sih mau ke lamongan kerumah mertuanya untuk silaturrahim mumpung masih situasi lebaran.

Ya sudahlah gak apa-apa,setelah berparas sangar  dan semua safety  riding terpenuhi lalu meluncurlah kami untuk menuju kayangan api, perjalanannya sih biasa-biasa aja tapi jalanan agak padat soalnya banyak rider-rider laen yang berlalu-lalang maklum saja soalnya lebaran hari kedua yang masih dalam suasana silaturohim. Memasuki jantung kota bojonegoro jalanan masih lumayan padat namun ketika memasuki kawasan dander jalanan sudah kembali lancar, karena ane khawatir  bensin  kagak  cukup  terpaksa ane beli BBM di  SPBU Ngumpak Ndalem dan syukurlah antreannya tidak terlalu panjang. Setelah beli minum untuk sang creator  kami tancap gas menuju wisata pertama yaitu khayangan api, deru mesin pun terdengar dari  motor kami. Perjalanan mulai terasa menantang ketika memasuki  kawasan wisata khayangan api karena jaln yang rusak parah dan berlubang membuat kami kudu hati-hati dan waspada meskipun ane sudah berhati-hati namun  terkadang masih juga kena lubang.

Kira-kira  +  1 km sebelum  memasuki wisata khayangan api terdapat gapura yang bertuliskan “taman wisata khayangan api kecamatan Ngasem  kab Bojonegoro”. Tiket masuk wisata ini sangatlah murah kami berempat Cuma merogoh kocek rp.12000 jadi per orang dikenai biaya rp.3000. karena tiket yang terjangkau banyak sekali  para pengunjung yang memadati wisata tersebut.di wisata ini kami hanya berfoto ria  dengan berbagai objek yang ada, mulai dari paung dan juga api abadi. Disini tidak hanya terdapat api abadi saja tetapi ada juga air belerang yang jaraknya kira-kira 100 m dari api abadi atau yang lebih terkenal dengan sebutan air blukuthuk .  hanya satu jam saja kami di wisata ini, kemudian perjalanan kami lanjut menuju waduk pacal walaupun ane pake motor bebek  namun ane merasa enjoy.

Perjalanan menuju waduk pacal sangatlah seru bahkan lebih seru daripada perjalanan ke khayangan api soalnya medan yang dilalui sangatlah  menantang, mulai dari kelokan, turunan dan tanjakan yang behhhh…………ajib pokonya, dan juga eksotisnya hutan dan juga tebing  disekeliling jalan yang kami lalu yang membuat kami tercengang dengan keindahan alam ciptaan Allah inii. Kang heri sebagai leader perjalanan di posisi depan sedangkan kami berdua mengekorinya dari belakang. Yang membuat perjalanan makin seru yaitu kita semua belum pernah ke waduk pacal dan melalui  jalan ini, kang heri saja yang nota benenya sang  adventurer sejati yang  udah kesana kesini saja belum pernah kesini apalagi ane yang kerjaanya ngubek-ubek rumah mana pernah dolan  ke  waduk pacal. Namun syukurlah kang heri bawa GPS jadi bisa sampe deh ke waduk pacal.

Tak jauh berbeda dengan khayangan api disini harga tiket per orang dibanderol seharga  rp.3.000, sangat terjangkau bukan? Setelah memarkir sang creator ane dan rombingan bergegas menuju waduk yang menjadi judul lagunya kang yoto itu. Dan subhanallah ane kagak ngira kalu bojonegoro punya bangunan bersejarah kayak waduk pacal ini. Dilihat dilihat dari bentuk bangunannya sih seperti  bangunan tempo doeloe pada waktu zaman belande  (sok tau) bukanya sok tau nih lur tapi  disalah satu bangunan dituliskan tahun pembuatan waduk yaitu pada tahun 1933 nah diwaktu tersebut kan bangsa kite dijajah ame belanda (he….he…he….). oh ya lur kondisi air di waduk pacal  saat itu sedang surut soalnya musim kemarau  sehingga  ada beberapa bagian yang  ditanami padi.

Tak lupa juga disini kami beraksi didepan kamera alias foto ria , setelah berfoto ini itu,  kang heri pergi….eh tak taunya mau beli pentol alias cilok alias cireng atau apalah  yang kebetulan ada yang jual di situ. Nah… pentol sudah ditangan masing masing kini saatnya melahap sambil menikmati pemandangan sekitar . setelah makan kami mulai jalan mengelilingi  waduk pacal  sambil jalan kami juga mengabadikan setiap moment dengan kamera tangan yang ane bawa dan kami pun tiba disuatu tempat yang ada  gubugnya atau tempat beteduh, dan kamipun beristirahat sejenak sambil ngemil makanan ringan yang telah dibeli di jalan tadi.

Mungkin satu jam kami bercanda ditempat tersebut karena sudah terlalu siang akhirnya kami kembali menuju tempat parker karena belum inigin pulang akhinya kami beristirahat lagi di  tempat tersebut , mungkin karena  lelah atau capek kang heri tertidur lelap sedang ane bersama keponakan ane  bima maen ayunan sambil mendengarkan music yang dangdut dan lagu jonegoroan  lewat speaker yang dislay oleh operator. 30 menit setelah itu kang heri bangun dan mengajak kami to back home.

Pulang kami pun melewati rute yang sama , singkat cerita kami mampir di salah satu masjid di kota bojonegoro untuk sholat dhuhur plus sholat ashar, setelah sholat  kami melanjutkan perjalanan pulang dan berkeinginan untuk singgah dulu di warung bakso langganan kami di soko namun  kami semua belum beruntung soalnya wrung langgan bakso kami sudah tutup dan kami pun harus mencari warung bakso lain dan Alhamdulillah ada, tanpa ba bi bu  kami pun  duduk dan memesan bakso plus minumannya, perutpun kenyang kini kami melanjutkan perjalana pulang kembali yang tinggal 5 km menuju rumah, dan Alhamdulillah sampailah kami di rumah .

RELATED PHOTOS :

ROAD TO KHAYANGAN API

17 September 2011 2 komentar

Tak mudah ana lupakan pengalaman yang satu ini, pengalaman yang spektakuler dalam hidup ana. Ana enggak nyangka bias kumpul bareng sama komunitas –komunitas pulsar se Jawa timur atau juga bisa disebut AMBI JAWA TIMUR (asosiasi motor bajaj Indonesia).

Pada liburan sekolah , kakak ana Heri setiawan atau lebih akrab dikenal kang heri oleh temannya pulang kekampung halamannya (desa ana, red-) dengan motor pulsar 180cc, selidik asal selidik maksud ke pulangannya dikarenakan ada acara AMBI JAWA TIMUR di kota Bojonegoro, maklum jarak antara desa ana denga n kota Bojonegoro lumayan dekat karena desa ana terletak di perbatasan antara Kab. TUBAN dan Kab. BOJONEGORO.

Entah mimpi apa ana semalam? Ana enggak nyangka jika ana diajak kang heri ikut serta dalam acara tersebut, “pucuk di cita ulampun tiba” mungkin peribasa itu yang cocok buat ana sekarang….kwkwkwkwkwkwk…. ba’dal isya’ kami berangkat eiitttsss!!! Tak lupa kami pamit sama tiyang sepuh, bru setelah itu kami cabutt!!! Ketika melewati disepanjang jalan desa kami, tak henti-hentinya orang memandang ke kami, mungkin mereka kagum kalau enggak gitu ya! Heran dengan penampilan kami berdua yang terlihat “sangar plus macho”bak anggota American gangster ….he….he….he..

Kurang lebih 2 km panjang jalan yang telah kami lewati dan kini kami harus melewati sebuah jalan yang panjangnya kurang lebih 1 km yng dikelilingi sawah dan irigasi yang dikenal “angker” oleh masyarakat sekitar, yang membuat jalan ini terkenal angker yaitu dahulu di tahun 2007 telah trjadi pembantaian, si korban kepalanya ditimpuk pake’ batu sampai tewas kemudian mayatnya di benamkan di irigasi (sungai kecil) di pinggir jalan yang kami lewati tersebut disamping itu terdapat juga jembatan kecil yang konon katanya sering terjadi penampakan di sana, tapi kami sih santay aja kan kita diciptakan oleh ALLAH SWT untuk tunduk dan takut kepada-Nya bukannya takut sama yang begituan tetapi meskipun begitu kita wajib percaya bahwa sesuatau yang ghaib itu ada…. Betul enggak bro?….kwkwkwkwkwk…..

Setelah melewati devil street tersebut kang herimulai memacu sang milestone (julukan pulsar kang heri, red-) lebih kencang bagaikan angin dengan deruan suara mesin motor bajaj yang khas menambah semangat kami untuk mengarungi semua jalan.
Kuran lebih 40 menit perjalanan yang penuh rintangan tersebut kami tiba di Bojonegoro pukul 08.00 wib kemudian langsung terjun dengan komunitas motor bajaj yang sudah ter parkir rapi di sepanjang jalan di alun-alun kota Bojonegoro, karena acara masih lama ana menyempatkan untuk berpose didepan camdig kang heri untuk mengabadikan momen tersebut , disamping itu ana juga Tanya sama kang heritentang semua komunitas yang ada disana, baru itu ana tau jika kang heri tergabung anggota bikers GPC (GRESIK PULSAR CLUB),ada juga POC Surabaya, KOPROL Probolinggo, dan dari daerah laen di Jawa timur.

Setelah dirasa siap para rombongan moge ini digiring menuju tempat yang telah ditentukan yaitu khayangan api , suatu tempat wisata di Bojonegoro dengan api alami yang muncul langsung dari tanah. Rute dan medan menuju khayangan api tidaklah mudah kami harus melewati tikungan tajam , jalan bergelombang serta hutan yang gelap namun semua itu terbayar lunas ketika semua rombongan telah tiba disana, seperti kegiatan wajib ana tak lupa berpose didepan camdig untuk mengabadikan momen tersebut, kan jarang ana bias maen ke situ lagi.
Disana ada salah satubikers yang beratraksi melewati api dengan gaya yang unik, ada yang duduk sambil membakar ubi dan jagung, ada juga yang duduk sambil ngobrol ngalor ngidul dengan teman ceweknya atau mungkin istrinya, ada juga yang foto, pokoknya lengkap deh!!!…he…he…he…..

Tidak hanya api saja disana juga terdapat mata air belerang yang sudah berumur lama, setelah cukup puas menikmati itu semua teman-teman GPC minta pulang ya terpaksa ana pulang, tapi pengenya sih tetep disana tapikan kang heri heri enggak enak gitu sama temen-temen GPC, ya sudahlah enggak apapa!!akhirnya kami pulang bareng sama temen dari GPC, singkat cerita kami sampa di devil street, perasaan ana enggak enak soalnya ana lihat jam tangan kang heri menunjukkan pukul 01.00 wib, karena kang heri terlalu cepat dalam menunggangi sang milestone-nya sehingga dia tidak memperhatikan keadaan di sekitar jalan , hingga akhirnya ada kucing nyelonong dengan tiba-tiba seperti sudah reflek kang heri membanting stir dengan memgerem mendadak kontan saja ana kaget!! Tapi Alhamdulillah kami tidak terjatuh dari motor dan untungnya kang heri sudah lihai menguasai moge.
Lanjuut!!! Kang heri menarik gas. Suara knalpot pulsar 180cc mennggerang membelah sepinya devil street dan jalan-jalan desa kami dan Perjalanan kami berkhir di rumah tercinta. Amiiieeennnn………!!!!!!!!!!
INI CERITAKU, APA CERITAMU???

%d blogger menyukai ini: