Beranda > Geografi > Artikel Tentang Dampak Perbedaan Keadaan Geografis Wilayah Terhadap Mobilitas Penduduk

Artikel Tentang Dampak Perbedaan Keadaan Geografis Wilayah Terhadap Mobilitas Penduduk

DAMPAK PERBEDAAN KEADAAN GEOGRAFIS WILAYAH TERHADAP MOBILITAS PENDUDUK

Hightanil Fajri

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, Indonesia

Program Studi  S1 Geografi

Email : hightanil@gmail.com

 

 Abstrak

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam keaneragaman bentuk bentuk muka bumi. Adanya beribu pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke menyebabkan beraneka ragamnya  bentuk bentuk kehidupan yang tentu akan berbeda pada setiap wilayah, hal tersebut juga yang akan  menimbulkan berbagai perbedaan dalam berbagai aspek sosial maupun aspek  yang lain seperti potensi wilayah. Sehingga pada wilayah yang memiliki daya dukung sumber daya alam dan sumber daya manusia yang  tinggi akan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan wilayah yang memiliki daya dukung wilayah yang rendah, dan pada umumnya penduduk yang berada pada wilayah yang memiliki potensi rendah akan melakukan mobilitas ataupun migrasi ke wilayah yang memiliki potensi wilayah yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup

Kata Kunci : keadaan geografis, mobiltas penduduk

 

 


Keadaan geografis suatu wilayah mencakup aspek fisik yang terdapat pada wilayah tersebut seperti atsmosfer, hidrosfer, dan litosfer. Keadaan geografis erat sekali dihubungkan dengan posisi letak yang akan menunjukkan posisi dan keberadaan suatu wilayah. Pada umumnya letak di bagi menjadi tiga yaitu letak astronomis, letak geografis dan letak geologis. Letak astronomis yaitu letak suatu wilayah yang didasarkan pada garis khayal  garis lintang dan garis bujur, sebagai contoh letak astronomis  Indonesia yang terletak di antara 6 derajat LU – 11 derajat LS dan 95 derajat BT – 141 derajat BT. Letak geografis yaitu letak suatu wilayah yang dilihat dari wilayah sekitar yang lebih luas. Indonesia memiliki letak geografis berada di antara Benua Asia dan Australia serta berada diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Keadaan ini menjadikan letak wilayah Indonesia sangat strategis karena berada pada posisi silang. Letak geologis merupakan letak suatu wilayah yang didasarkan pada susunan batuan yang ada pada bumi. Menurut letak geologisnya Indonesia terletak pada rangkaian penggunungan pasifik dan mediterania serta  terletak diantara tiga lempeng utama yang ada didunia yakni Lempeng Autralia, Eurasia, dan Pasifik.

 

Secara geografis wilayah Indonesia sangat luas, sehingga negara kita dikenal sebagai Negara Kepualauan atau Negara Maritim. Hal ini berdasarkan dari luas wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan luas daratan 1.922.570 km2 dengan  ± 17.000 buah pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke serta Indonesia memiliki luas perairan 3.257.483 km2. Dengan luas yang demikian Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah baik yang terdapat didaratan maupun yang terdapat di lautan. Letak geografis Indonesia juga berpengaruh terhadap keadaan/kondisi fisik pada setiap wilayah .Diketahui Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, sebab sebagian wilayah kepulauan  Indonesia dilalui oleh garis khatulistiwa tepatnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat, sehingga  ada dampak dampak dari garis khatulistiwa diantaranya : Iklim tropis yang menyebabkan Indonesia mendapat pancaran langsung sinar matahari sepanjang tahun sehingga terjadi penguapan dan kelembaban yang akan berdampak adanya hutan hujan tropis diwilayah tersebut sebagai habitat flora dan fauna untuk berkembang biak serta Secara fisik, dengan letak geografis tersebut Indonesia kemudian dilalui oleh angin monsoon atau muson. Angin ini berganti arah sebanyak dua kali di dalam satu tahun. Kehadiran angin muson ini membuat Indonesia hanya memiliki dua musim yakni penghujan dan kemarau. Adanya garis khatulistiwa di Indonesia juga menyebabkan adanya perbedaan waktu, seperti WIB (waktu Indonesia bagian barat), WITA (waktu Indonesia bagian tengah) dan WIT (waktu Indonesia bagian timur). Sedangkan   letak geologisnya. Dari sudut pandang geologis, Indonesia dilihat berdasarkan jenis bebatuan yang ada. Secara geologi, Indonesia dilalui oleh dua pegunungan yakni Mediteranian pada sebelah barat dan pegunungan Sirkum di bagian Timur. Keberadaan dua pegunungan tersebut membuat Indonesia kaya akan gunung berapi yang selalu aktif serta rawan akan gempa bumi.

 

Keadaan geografis wilayah berpengaruh juga pada berbagai aspek seperti perbedaan sumber daya  antara wilayah satu dengan wilayah yang lain baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sebab adanya perbedaan keadaan pada permukaan bumi di setiap wilayah tersebut yang mengakibatkan adanya perbedaan daya dukung lingkungan terhadap kebutuhan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Perbedaan daya dukung lingkungan tersebut berdampak pada perbedaan kemampuan suatu daerah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya pada wilayah tersebut. Penduduk yang tinggal pada daerah yang daya dukung lingkungannya rendah akan berupaya untuk memenuhi kebutuhannya dengan bekerja di daerah lain maupun pindah secara permanen. Sehingga perbedaan wilayah dapat dijadikan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya mobilitas penduduk. Arti dari mobililitas penduduk menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack (Soekanto, 2001:275)  mengartikan definisi “….mobilitas sosial sebagai suatu mobilitas dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi dalam suatu kelompok sosial. Jadi, mobilitas sosial ialah suatu perubahan atau perpindahan kelas-kelas sosial, baik keatas ataupun ke bawah, yang dialami oleh seorang individu atau kelompok sosial, sehingga memberikan dampak berupa perubahan kelas baru yang diperoleh individu atau kelompok tersebut…”.

 

Mobilitas penduduk terjadi karena  berbagai faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong menyebabkan seseorang berfikir untuk pergi dari daerah asalnya contohnya karena sedikitnya lapangan pekerjaan di desa, generasi muda yang ingin memperbaiki kehidupan dan membebaskan diri dari adat-istiadat serta kesempatan menambah ilmu di desa sangat terbatas sehingga mereka melakukan mobilitas ke kota karena mereka beranggapan kondisi wilayah lebih memungkinkan untuk memperbaiki kehidupan maupun menambah ilmu maupun yang lainnya, sedangkan faktor penarik menyebabkan seseorang memiliki keinginan pergi atau pindah ke daerah tujuan dan meninggalkan daerah asal contoh faktor penarik yang menyebabkan adanya mobilitas sosial seperti yang diketahui kota adalah pusat kegiatan perekonomian, pemerintahan, administratif dan industry,  kota menghimpun modal yang lebih besar, kota memberikan peluang yang tidak terbatas, dan industrialisasi di kota menambah peluang lapangan kerja yang lebih banyak. Mobilitas penduduk digolongkan menjadi dua, yaitu mobilitas permanen dan non permanen. Mobilitas permanen terjadi karena keinginan pelaku mobilitas untuk meninggalkan daerah asal dengan memiliki niat untuk bertempat tinggal di daerah tujuan. Mobilitas permanen biasanya dilatarbelakangi karena bencana alam dan keinginan untuk mencari daerah baru. Mobilitas non permanen merupakan pergerakan penduduk yang menetap didaerah tujuan dalam waktu tertentu tanpa berniat untuk bertempat tinggal di tempat tujuan. Mobilitas ini hanya sementara dan banyak dilakukan oleh pekerja, pelajar maupun mahasiswa yang hanya menetap sementara.

 

Mobilitas yang bersifat sementara (non permanen) merupakan mobilitas yang paling banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan kemudahan layanan transportasi penduduk mendapat kemudahan dalam melakukan mobilitas. Dengan kemudahan layanan transportasi tersebut penduduk lebih memilih tetap menetap didaerah asal dan melakukan gerak perpindahan dengan kendaraan pribadi ataupun transportasi masal. Mobilitas non permanen banyak dilakukan oleh para pekerja dari pedesaan yang menuju ke kota tujuan. Menurut Hugo (1978) dampak gerak penduduk tergantung pada sifat atau bentuknya (permanen atau sementara) dan situasi sosial, ekonomi, serta politik di mana gejala itu terjadi. Di samping itu, tergantung pula pada jumlah yang terlibat, lamanya tidak ada, pengaruh ketidakadaan dan kemungkinan kembali, baik bagi movers maupun daerah asalnya. Gerak penduduk yang non permanen (sirkulasi, circulation) ini dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu ulang alik dan dapat menginap atau mondok di daerah tujuan. Ulang alik adalah gerak penduduk dari daerah asal menuju ke daerah tujuan dalam batas waktu tertentu dan kembali ke daerah asal pada hari itu juga. Pada umumnya penduduk yang melakukan mobilitas ingin kembali ke daerah asal secepatnya sehingga kalau dibandingkan frekuensi penduduk yang melakukan mobilitas ulang alik, menginap/mondok, dan migrasi, frekuensi mobilitas penduduk ulang alik terbesar disusul oleh menginap/mondok dan migrasi. Secara operasional, macam-macam bentuk mobilitas penduduk tersebut diukur berdasakan konsep ruang dan waktu.

 

Berbeda dengan penduduk yang melakukan mobilitas permanen, mobilitas non permanen dalam melakukan mobilitas tidak serta membawa keluarganya ke daerah tujuan. Sifat dan perilaku mereka di kota tujuan adalah berusaha menggunakan waktu bekerja sebanyak mungkin agar mendapatkan upah yang sebanyak mungkin untuk dikirim ke daerah asal. Mereka juga berusaha untuk mempergunakan pendapatannya seminimal mungkin di daerah tujuan, sehingga mereka memiliki peluang mengumpulkan upah sebanyak-banyaknya untuk dikirim kedaerah asal. Perilaku ini banyak dimanfaatkan oleh kontraktor proyek yang memperkerjakan para migran non permanen dibandingkan para pekerja lokal yang biasanya sering meminta libur untuk aktivitas desa atau keluarganya sendiri.

 

Alasan sesorang melakukan mobilitas pada era sekarang ini adalah karena untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pembangunan daerah yang tidak merata menyebabkan adanya ketimpangan antar daerah. Ketimpangan ini terjadi antara wilayah perkotaan dan pedesaan dimana di wilayah kota perekonomian lebih berkembang dibandingkan di pedesaan. Pada umumnya penduduk pedesaan merasa pendapatan dari sektor pertanian rendah, sehingga mereka pergi ke kota untuk bekerja di sektor lain dengan harapan memperoleh pendapatan tinggi.

 

Mantra (2012 : 179) menerangkan, mobilitas penduduk secara umum terjadi karena terdapat perbedaan nilai faedah antar daerah. Keputusan untuk melakukan mobilitas secara teori dipengruhi oleh teori kebutuhan dan stres (need and stres). Ketika kebutuhan hidup penduduk semakin meningkat dan tidak dapat terpenuhi, hal ini mengakibatkan penduduk mengalami stres. Apabila tingkat stres ini masih dalam batas toleransi maka tidak ada dorongan untuk melakukan mobilitas. Apabila tingkat stres lebih besar dari batas toleransi, maka penduduk mulai berpikir untuk pindah ke daerah lain dimana kebutuhannya dapat terpenuhi. Dengan kata lain, seseorang akan pindah dari daerah yang memiliki nilai kefaedahan wilayah (place utility) lebih rendah kedaerah yang memiliki kefaedahan wilayah lebih tinggi dimana kebutuhannya dapat terpenuhi.

 

Lee (1966), Todaro (1979), dan Titus (1982) berpendapat bahwa motivasi seseorang untuk pindah adalah motif ekonomi. Motif tersebut berkembang karena adanya ketimpangan ekonomi antar daerah.Todaro menyebutkan motif utama tersebut sebagai pertimbangan ekonomi yang rasional. Mobilitas ke perkotaan mempunyai dua harapan, yaitu memperoleh pekerjaan dan harapan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada yang diperoleh di pedesaan. Dengan demikian, mobilitas penduduk mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara kedua daerah tersebut. Oleh karena itu, arah pergerakan penduduk juga cenderung ke wilayah kota yang memiliki kekuatan-kekuatan yang besar sehingga diharapkan dapat memenuhi pamrih-pamrih ekonomi mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa mobilitas penduduk itu terjadi apabila tedapat perbedaan nilai kefaedahan antara dua wilayah (Mantra, 2012).

 

Pada dasarnya wilayah yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi menjadi daya tarik bagi para migran yang berasal dari daerah dengan potensi ekonomi yang rendah. Para migran tidak memikirkan berbagai informasi  negatif tentang daerah tujuan mereka, yang terpenting bagi mereka adalah memperoleh pekerjaan yang mampu meningkatkan taraf ekonomi keluarganya. Demi mengumpulkan upah yang banyak, para migran berupaya meminimalkan pengeluaran dan menyimpan uangnya untuk dikirim kepada keluarganya. Wilayah kota menjadi tujuan karena laju modernisasi berjalan dengan cepat dan menarik minat penduduk karena beragam fasilitas, teknologi dan aksesibilitas yang ditawarkan. Akibatnya wilayah perkotaan menjadi padat penduduk karena jumlah pendatang yang banyak bahkan dibeberapa tempat tiap tahun jumlah pendatang meningkat. Tingginya kepadatan di daerah-daerah tertentu (Jawa-Bali) mengindikasikan telah terjadi pergerakan/aliran penduduk menuju pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, sosial dan politik.

 

Perbedaan kondisi wilayah yang memicu perpindahan penduduk pada akhirnya akan  menimbulkan berbagai dampak pada kedua tempat tersebut. Peluang kerja yang bervariatif banyak didapatkan di kawasan perkotaan membuat penduduk di desa melakukan perpindahan ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi.

 

Pada dasarnya mobilitas penduduk akan menimbulkan dampak pada kedua wilayah yang bersangkutan. Adam (tanpa tahun :5) mengungkapkan, kesenjangan pembangunan yang menyebabkan perbedaan keadaan antar wilayah menyebabkan munculnya urbanisasi. Hal ini di latar belakangi oleh fakta dilapangan yang secara nyata menunjukkan kawasan kota berkembang menjadi pusat pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan, maupun politik. Penduduk di desa pada akhirnya tergiur untuk pergi ke kota dan sebagian besar dalam jangka waktu yang lama. Tingkat urbanisasi menurut provinsi dari tahun 2000 hingga 2025 yang dihitung oleh BPS mencapai 68 persen pada tahun 2025 untuk beberapa provinsi, terutama di Jawa dan Bali. Untuk Sumatera; Riau 71,1 persen, di Jawa; Jakarta 100 persen, Jawa Barat 81,4 persen, Jawa Tengah 73,8 persen, DIY 82,8, Jawa Timur 73,7, Banten 81,5, Bali 81,5 persen, dan Kalimantan Timur 75,9 persen. Bahkan persentase penduduk perkotaan pada 4 provinsi di Jawa pada tahun 2025 lebih dari 80 persen. Keadaanr ini memperkuat asumsi umum bahwa tingginya persentase ini disebabkan karena pusat-pusat pertumbuhan (sosial dan ekonomi) terkonsentrasi di perkotaan menjadi faktor penarik yang dominan bagi pergerakan penduduk ke perkotaan.

 

Jika kondisi tersebut dibiarkan terus menerus, maka wilayah kota akan mengalami penurunan kapasitas daya tampung wilayah dan mengalami kejenuhan karena jumlah penduduk yang semakin besar. Dengan segala kemajuan yang ada kota akan terus menarik penduduk untuk datang ke kota dan para pendatang tersebut akan kesulitan dalam memanfaatkan lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja karena terjadi kompetisi yang ketat. Hal ini menimbulkan potensi konflik antar masyarakat di kota.

 

Wilayah pedesaan juga mengalami kerugian karena kehilangan sumber daya manusianya yang produktif. Pertumbuhan ekonomi akan berjalan sangat lambat, terutama pada wilayah yang jauh dari pusat pembanguan ekonomi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan keadaan dimana lapangan pekerjaan yang ada didesa cenderung homogen, yaitu dari sektor pertanian. Apabila keadaan seperti ini tetap terjadi dan tidak dibenahi maka akan menyebabkan semakin meningkatnya urbanisasi yang tidak terkendali.

 

Kondisi urbanisasi yang tidak terkendali ini telihat secara fisik dari luas wilayah perkotaan karena pesatnya perkembangan dan meluasnya fringe area terutama di kota-kota besar dan metropolitan, meluasnya perkembangan fisik perkotaan di kawasan sub-urban yang telah mengintegrasi kota-kota yang lebih kecil disekitar kota intinya dan membentuk konurbasi yang tidak terkendali, meningkatnya jumlah desa-kota, terjadinya reklasifikasi perubahan daerah rural menjadi daerah urban, kecenderungan pertumbuhan penduduk kota inti di kawasan metropolitan menurun dan sebaliknya di daerah sekitarnya mengalami peningkatan (proses pengkotaan pada kawasan pedesaan).

 

Dengan semakin meluasnya kawasan kota, wilayah disekitar kota pada akhirnya terkena imbasnya. Imbas negatif yang diterima daerah di sekitar kota adalah terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alam di sekitar kota-kota besar dan metropolitan untuk mendukung dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, secara kontinyu terus terjadi konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan pemukiman, perdagangan dan industri, menurunnya kualitas lingkungan fisik kawasan perkotaan akibat terjadinya perusakan lingkungan dan semakin besar skala polusi, menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan karena permasalahan sosial-ekonomi dan penurunan kualitas pelayanan kebutuhan dasar perkotaan.

 

Hingga saat ini pembangunan antara wilayah kota dengan desa kurang sinergis dan kurang mendukung terutama pada wilayah pedesaan. Perbedaan kegiatan ekonomi antara kedua wilayah pada akhirnya mematikan peran kota sebagai ujung pembangunan ekonomi justru menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan pedesaan. Pada akhirnya hal tersebut menyebabkan ketertinggalan masyarakat pedesaan.

 

Berdasarkan keterangan di atas perbedaan keadaan wilayah mendorong seseorang untuk melakukan mobiltas. Apabila ketimpangan ini tidak segera diselesaikan pada akhirnya menyebabkan terjadinya urbanisasi yang tidak terkendali di kota. Kota menjadi pilihan utama karena kota teah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, sosial-budaya, dan politik. Banyaknya pendatang pada akhirnya mebuat kawasan kota menjadi padat dan penduduk tidak dapat tertampung seluruhnya oleh lapangan pekerjaan yang ada di kota. Hal ini ada akhirnya akan menimbulkan banyak pengangguran di kota dan meningkatnya angka kriminalitas.

 

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa perbedaan keadaan wilayah antar daerah dapat mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk antar wilayah. Bentuk mobilitas tersebut ada yang permanen dan ada yang sementara saja atau non permanen. Para migran bergerak menuju daerah tujuan pada dasarnya untuk memperoleh pekerjaan yang berpenghasilan tinggi. Dalam memilih tempat tujuan, para migran juga memperhatikan  kemajua perekonomian daerah tujuan. Daerah yang memiliki kemajuan ekonomi  yang tinggi semakin besar daya tariknya bagi para migran pekerja. Para migran ini akan memilih tempat tujuan dimana disana terdapat saudara atau teman sebagai tempat persinggahan awal. Selama bekerja di kota, para migran berupaya meminimalisir pengeluaran agar dapat mengumpulkan uang yang banyak untuk dikirim pada keluarga di daerah asal. Adanya mobilitas ini menimbulkan dampak bagi daerah tujuan maupun darah asal. Pada daerah tujuan yaitu kota, tingginya jumlah pendatang menyebabkan padatnya kawasan perkotaan, meningkatnya angka pengangguran karena lapangan pekerjaan yang semakin sempit, dan berkembangnya pemukiman kumuh. Pada daerah pedesaan, pertumbuhan berjalan lambat karena sumber daya manusianya banyak yang meninggalkan desa sehingga perekonomian kurang berkembang. Untuk itu diperlukan kebijakan untuk mengatasi permasalahan ini.

 

Penyebab gencarnya mobilitas penduduk sendiri disebabkan karena adanya ketimpangan antar daerah. Pola pengembangan ekonomi yang mengedepankan kota sebagai pusat pertumbuhan menyebabkan banyak masyarakat desa yang melakaukan perpindahan ke kota karena kota mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka. Untuk itu Pemerintah Daerah perlu melakukan  operasi yustisi untuk menekan arus urbanisasi, pembangunan kota-kota kecil didaerah untuk menyerap migran lokal, pembangunan kawasan pedesaan dengan membangun infrastruktur untuk meningkatkan perekonomian pedesaan dan pemberdayaan masyarakat, dan menambah lapangan pekerjaan di desa. Jika hal ini dapat dilakukan, maka perpindahan penduduk ke kota dapat diminimalisir, sedangkan apabila tidak dilakukan maka akan terjadi ledakan urbanisasi yang mengakibatkan kota dipenuhi pendatang dan desa kekurangan sumber daya potensial untuk membangun daerahnya. Kepada masyarakat diharapkan untuk tidak tergesa-gesa melakukan perpindahan ke kota untuk sekedar mencari pekerjaan. Masyarakat hendaknya memiliki kesadaran untuk membangun daerahnya sendiri dengan membuka usaha secara mandiri di desa mereka. Selain dapat menambah pendapatan juga bisa membuka lapangan pekerjaan di daerahnya. Tanpa adanya kesadaran tersebut, daerah asal akan tetap lambat dalam berkembang karena tidak ada tambahan lapangan pekerjaan.

 

 


Daftar Rujukan :

Adam, Felicia P. .Tanpa Tahun.Tren Urbanisasi di Indonesia. (online)

(http://ojs.unud.ac.id/index.php/piramida/article/download/2998/2156, diakses pada 28  November 2013)

Alkarazkani, Futia.2012.Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah. (Online)

(http://fuktia-alkarazkani.blogspot.com/2012/04/ketimpangan-pembangunan-antar-wilayah.html, diakses pada tanggal 28 November 2013)

Prijatna, Hendra.2012.Masyarakat Desa dan Kota. (online)

(https://hendraprijatna68.files.wordpress.com/2012/06/masyarakat-desa-dan-kota.docx, diakses pada tanggal 29 November 2013)

Purnama, Hendra Dwi.2013.Dampak Perbedaan Keadaan Wilayah. (online)

(http://hendra-dwi-purnama.blogspot.com/2013/08/dampak-perbedaan-keadaan-wilayah.html, diakses pada tanggal  1 Dessember2013)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pengunjung Yang Bijak Adalah Yang Meninggalkan Jejak. Monggo Dikomeng Y(^_^)Y

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: