Semua Itu Hanya Mimpi

ini ane mau share cerpen yang ane buat untuk tugas akhir sekolah beberapa bulan yg lalu, cerpen ini terinspirasi dari perjuangan kakak ane, Kang Fajri, 2 tahun yang lalu, disimak aja gan, insya Allah dapat menginspirasi agan-agan semua, kalo ada kata-kata atau bahasa nya yang kurang menarik di hati agan, ane minta maaf ya, maklum masih nubi..oke langsung simak aja gan..

sumber : googling
sumber : googling

Gubrak….!!! terdengar hantaman tangan meluncur di meja temanku, membuyarkan semua lamunanku dan Aku menoleh pada sumber suara tersebut.

“Apa yang kamu lakukan,hah?mencontek lagi? dasar anak bodoh tak tahu malu” kata Pak Tomi, guru Matematika ku, dengan nada geram

“Maaf pak,lain kali saya tidak akan mengulangi lagi.”jawab Yudi,temanku yang terkenal setengah bodoh,dengan agak ketakutan.

“Sini lembar jawabanmu, berikan pada Bapak” kata Pak Tomi yang ingin merebut kertas lembar jawaban dari hadapan Yudi

“Tapi pak…saya belum selesai” kata Yudi sambil melindungi lembar jawabannya dari cengkeraman maut pak guru Tomi

Tiba-tiba terdengar bunyi kertas disobek kraaakkkkk….disusul keluarnya Yudi dengan wajah terlihat layu

Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah soal Matematika,dengan wajah agak berfikir Aku membayangkan bagaimana nasib Yudi setelah kejadian ini.

“Anak-anak..kalian jangan meniru kelakuan si Bengal Yudi,ingat Masa depan kalian Masih panjang terapkanlah kejujuran dalam benak kalian. Dan ayo dikumpulkan lembar jawabannya karena waktunya sudah habis.”nasehat bijak Pak Tomi yang selalu keluar jika ada kejadian yang sama.

“Apa?Tinggal lima menit lagi?gimana nih Masih ada 8 soal yang bersih dari coretan pensilku. Apa yang harus kulakukan?”.  Kataku dalam hati. Akhirnya Aku menemukan ide untuk mengintip sejenak jawaban milik Ida,si jago Matematika.

Tiba-tiba terdengar suara serigala melolong

“Ariiii…………apa yang kamu lakukan?kamu mau mencontek?kamu ingin bernasib sama dengan temanmu Yudi,hah?.” Teriakan Pak Tomi yang memekakkan telingaku.

“Ngggak..pak,ini lagi mau mengambil jawaban ida untuk dikumpulkan..”kataku membela diri.

“Alasan..jawabannya dikumpulkan sendiri-sendiri bodoh..” ucap Pak Tomi dengan nada merendahkan.

“ya pak,maafkan saya..”

Akhirnya Aku dapat keluar, setelah 2 jam di neraka ditemani oleh malaikat malik yang bersiap mencambuk para pembuat dosa. Entah apa yang akan terjadi nanti Aku bersiap menghadapinya bagaimana tidak? Dari 10 soal yang di ujikan hanya dua jawaban yang memenuhi kertas folioku itupun dengan ketentuan satu soal ragu-ragu atas jawabannya dan yang lainnya memilih dengan cara feeling.

Esoknya, ku berangkat lebih pagi karena hari ini adalah jadwal ku untuk membersihkan kelas,kuletakkan sepeda ku di pojok tempat parkir disana Aku bertemu dengan Yudi. Kita berdua bergegas menuju kelas kita, kelas yang paling kumuh,jelek, dan terbelakang dari kelas-kelas yang lain, cat dindingnya sudah memudar,terjadi retakan sana-sini, tidak dapt di kunci sehingga memudahkan siapapun untuk mengacak-acak kelas kami, papan tulis banyak goresan,banyak tumpukan bangku dan kursi rusak tepat di belakang tempat duduk kami.

Kringggg,…..tanda bel Masuk berbunyi, Aku baru ingat pelajaran pertama adalah Matematika,pelajaran yang menurutku sangat membosankan begitu juga gurunya yang terkenal dengan berbagai julukan mulai dari: Killer,Sang Diktator,Si Kejam, sampai Malaikat Malik,Malaikat penjaga Neraka. Ku ambil bangku paling belakang dan pojok untuk menghindari semburan Sang Diktator

“Assalamualikum Wr. Wb.”

“Waalaikumussalam Wr. Wb.”

“Selamat pagi anak-anak, dengan semangat baru mari kita mulai pelajaran hari ini,untuk mengawali pelajaran hari ini Bapak akan mebacakan hasil dari ulangan kemarin.”kata Pak Tomi mengawali

“Pak mau Tanya, remidinya kapan?” Tanya Budi,temanku yang ahli Biologi tapi tidak pada Matematika.

“Ahh..kamu Budi,jangan pesimis gitu dong..Bapak kan belum membacakan hasilnya,”

“OK,Bapak mulai saja, untuk nilai tertinggi diraih oleh Ida Sri Suharmei dengan nilai hampir sempurna 98,sedangkan untuk nilai terburuk Masih ditempati oleh anak yang sama siapa lagi kalo bukan…….”ucap Pak Tomi dengan suara bersemangat

“siapa anak-anak?.”Tanya Pak Tomi kepada semua siswa

“Ari Setiawan pak, ha..ha.ha.ha.ha….”teriak seluruh siswa sambil menunjuk kearahku

Aku merasa malu tapi inilah akibat yang harus ku terima karena selalu tidak belajar ketika akan ulangan Matematika, tapi sudah lah apa boleh buat lagi pula memang Pak Tomi sangat tidak menyukaiku dan bermaksud membuatku malu ditertawakan oleh semua teman-temanku sekelas.

“sudah anak-anak,Ari mendapat nilai 10 itupun atas kebaikan Bapak yang menghargai kerja keras Ari menulis kembali soal yang Bapak buat”suara Pak Tomi menghentikan tertawaan teman-temanku

Kembali suara ketawa menggema di kelas ku kali ini lebih keras dari sebelumnya,Aku hanya diam sambil membayangkan Pak Tomi tiba-tiba kepeleset dan jatuh.

Semenjak kejadian 2 tahun yang lalu itulah Aku mulai sadar untuk belajar lebih giat, kini hari-hari ku lebih diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, Aku mulai menyadari harapan yang telah diembankan kepadaku oleh keluargaku. kini, tak ada lagi rebutan remote TV dengan Adikku karena selalu beradu argumen  tentang Program TV,tak ada  lagi suara gaduh ketika akan tidur,tak ada lagi permainan sepak bola di halaman rumah,  tak ada lagi omelan ketika menemui lauk pauk yang kurang menggoda di meja makan, tak ada lagi kata malas, yang ada hanya kata belajar dan semangat.

“Mas, gimana tadi ujian sekolahnya? Lancar nggak” Tanya Adikku menghampiriku ketika ku baru saja akan memasuki rumah

“Allhamdulillah Dek lancar,ini kan berkat Adek juga yang memberi kakak rumus jitu”.jawabku membanggakannya

“Ah..biasa saja,kita kan harus saling membantu”jawab Adekku merendah

Perhatian seperti Itulah yang diberikan Adi, Adikku, yang umurnya 2 tahun lebih muda dariku dan sekarang duduk di bangku kelas XI, tidak hanya mengajariku cara menghitung cepat dia juga memberikanku seputar tips gimana Aku menghadapi UN yang akan berlangsung 30 hari lagi dan juga dukungan agar Aku bersemangat untuk menggapai cita-citaku yaitu kuliah di salah satu perguruan  Tinggi Negeri di kota Malang, dia juga sangat luar biasa, dia sering membantuku mencarikan soal UNAS dari tahun ke tahun dan juga tahu situasi saat akan mengajakku untuk bermain Game.

Ibuku juga sosok yang luar biasa dengan tak henti-henti mendoakan ku agar Aku dapat diterima di PTN favorit dia juga memberikanku nasehat yang luar biasa,

“Nak,kamu tahu kalau Bapak dan emak sudah terlalu tua untuk membiayai biaya kuliahmu kelak, maka dari itu belajarlah yang rajin tuntutlah ilmu setinggi mungkin karena kita tidak dapat mengandalkan rupiah tapi kami mengandalkan kecerdasanmu agar esok mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban yang dipikul oleh Bapak dan emak”nasehat Emak ketika sedang  menungguiku belajar

“Insya Allah mak, Ari gak akan mengecewakan Emak. Ari akan sungguh-sungguh dalam belajar”.jawabku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ya sudah,doa emak dan Bapak menyertaimu, ingat jangan sampai menghapuskan harapan kami nak.”kata Emakku kembali

“Insya Allah Mak” jawabku

 

30 hari berlalu,kini tiba saatnya Aku harus menghadapi pertempuaran yang sesungguhnya. dengan senjata dan bekal yang sudah Aku persiapkan, Aku siap untuk bertarung demi Masa depan, pertempuran yang akan mengubah semuanya, tak ada yang lebih menegangkan dari pertempuran ini karena ini adalah pertempuran terakhir kami di medan perang, apapun dipersiapkan untuk menghadapinya dari yang kecil sampai yang besar, dan Aku berharap pertempuran terakhir ini menggantikan kenangan buruk pada Masa lalu dan memberikanku kenangan manis dalam hidupku,dengan senjata dan bekal yang telah ku genggam Aku siap menghadapinya.

Ujian nasional berlalu dengan sangat lama kini saatnya ku harus menunggu beberapa bulan lagi untuk mengetahui hasil ujian ku selama 4 hari, hasil ujian yang akan kugunakan tiket untuk meraih cita-citaku Masuk di perguruan tinggi, hasil yang akan menghantarkan keinginanku yang terpendam, hasil yang akan membuat bangga orang tua ku, kini dalam 90 hari ke depan Aku akan menunggu hasil tersebut. Hasil yang bisa saja membuat jantung ini berdebar tak teratur, hasil yang akan membuatku lebih mendekatkan diri kepada yang Kuasa, lebih berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat kebaikan selama kurang lebih 3 bulan, tak ada hal yang paling membosankan selain menunggu apalagi jika tidak mengetahui kepastiannya tentang baik atau buruk hal yang akan di dapat, makan pun selalu diselingi dengan ingatan 90 hari ke depan, guyuran air ketika mandi juga mengingatkan ku tentang hasil yang akan ku peroleh Aku tidak mengerti apa hubungan antara guyuran air waktu mandi dengan hasil yang akan ku dapat tapi yang pasti dalam penantian ini lamunanku selalu tertuju pada hasil ketika Aku mandi sampai-sampai Aku hanya memikirkan satu hal dalam otakku yaitu hasil, tak ada yang akan menandingi dari kata hasil dalam otakku. Semua yang Aku lihat selalu menuju hasil, hasil apa yang akan ku dapat? Baikkah atau burukkah? Membanggakan atau memalukan? Tiket Masa depan atau tiket kehancuran? Ah pikiranku terlalu dalam untuk memikirkan usaha ku dan takdir Tuhan 3 bulan yang akan datang.

Masa penantianku selama 3 bulan sudah habis, akhirnya sekarang ku dapat bernafas lega setelah seperti tercekik selendang selama seperempat tahun, tapi nafas lega ini belum sepenuhnya sempurna karena ku belum tahu hasilku. Ku kayuh sepeda tua ku dengan debaran jantung tak beratur, tak peduli perut ini dalam kondisi lapar ku pancal lebih kuat lagi pedal sepeda ini agar lebih cepat sampai ke sekolah dengan harapan mendengar hasil yang membanggakan.

“Anak-anak hasil dari kerja keras kalian sudah keluar, Bapak berharap kalian dapat menerima hasil ini dengan lapang dada dan jangan putus asa, karena ada satu anak yang harus mengulang setahun lagi, ini memang berat tapi ini adalah kenyataannya meskipun pahit” kata Bapak kepala sekolah kami, Dr. Usman Hanafi

“untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan kalian akan dipanggil satu-satu masuk ke dalam kelas dan akan dibacakan hasil dari ujian kalian, Bapak berharap setelah ini tidak ada aksi corat-coret, tunjukkan bahwa kalian siswa yang baik dan teladan” kata Pak kepala menambahkan

Satu per satu siswa dipanggil masuk ke dalam, dan satu per satu pula keluar dengan menunjukkan wajah yang sumringah, Aku belum di panggil dan dadaku berdebar semakin tidak teratur dan lebih kencang daripada penantianku 3 bulan yang lalu, ini lebih menyiksku, desiran angin yang menerpaku semakin membuatku takut, lamunanku mulai berimajinasi ke hal yang terburuk hal yang akan membuat malu keluargaku hal yang akan menghapus cita-citaku, hal yang akan menjadi tiket kehancuran dan Aku membayangkan satu hal” apakah Aku TIDAK LULUS?” tiba-tiba namaku dipanggil, kuhapus ingatanku tentang hal terburuk dan membayangkan hal yang terbaik untukku.ku berdoa dalam hati. “Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk hamba”. Ku langkahkan kaki dan bersiap untuk menuju kelas

“Ari,Bapak tahu, kamu telah berubah sejak kejadian 2 tahun lalu, kamu menjadi lebih baik dan giat belajar, prestasimu juga semakin membaik, Bapak bangga denganmu” kata Pak Tomi membanggakanku

“Makasih Pak,maafkan kelakuan saya atas kejadian tahun lalu” jawabku dengan sedikit bergetar

“Iya sama-sama, tapi Bapak tidak menyangka kamu kurang beruntung dalam hal ini, Bapak berharap kamu tidak putus asa dan tetap semangat” kata Pak Tomi mulai membahas hasilku

“Apa maksudnya Pak?” kataku dengan jantung berdebar dan mulai menitikkan air mata

“maafkan Bapak,Ari. Kamu kurang beruntung tahun ini, kamu jangan putus asa ya.” Kata Pak Tomi memberitahukan hasilku.

“apa Bapak yakin itu hasil saya? saya sudah berusaha sekuat tenaga Pak, tidak mungkin itu hasil saya.” kata ku dengan diiringi tangisan.

“Bapak yakin Ari, ini hasilnya..” kata Pak Tomi seraya memperlihatkan hasil ku

Aku menangis dengan keras dengan tidak sadar Aku mengucap hal yang Aku sendiri tidak mendengar dan paham, Aku merasa dunia ini telah berakhir dan Aku telah jatuh ke dalam jurang yang paling dalam dan menyeramkan, Aku telah gagal. Tak ada lagi impian membahagiakan orang tua, tak ada lagi tiket menuju Masa depan, tak ada lagi Perguruan Tinggi Negeri. Yang ada hanya satu hal. Aku Gagal meraih impianku. Disaat Aku terhanyut dalam lamunan buruk dan tangisan, terdengar suara orang yang sepertinya Aku kenal.

“Ari, maafkan Bapak telah berbohong. Kamu lulus dengan nilai terbaik. Yang tadi hanya rekayasa Bapak.” Suara pak Tomi menghentikan tangisanku

“Apa pak? Saya lulus.” Kataku setengah tidak percaya dan Masih diiringi suara tangisku.

“Ya dan juga dengan nilai yang membanggakan.” Kata Pak Tomi meyakinkan

“Benar Pak?makasih banyak Pak. Saya tidak bisa membayangkan jika saya gagal” kata ku bersemangat.

Sejak sandiwara tingkat atas Pak Tomi tersebut, nafasku seakan semakin lega, tiket sudah ditangan kini Aku tinggal menggunakannya untuk masuk ke impianku. Kini Aku mengalami hal yang sama seperti 3 bulan yang lalu yaitu menunggu, menunggu impianku menjadi kenyataan, menunggu senyuman bahagia kedua orang tua ku, dan menunggu tambahan “maha” pada gelarku dulu, bedanya kali ini Aku lebih optimis dan yakin bahwa gerbang telah terbuka lebar untukku melangkah dan Masuk meraih impianku, menunggu kali ini jauh lebih menyenangkan, tak ada lagi ingatan yang menyeramkan, tak ada lagi bayangan tentang hal yang buruk. Yang ada hanya satu Aku akan meraih impianku dalam beberapa hari lagi, hari-hari ku selalu berisi bayangan bagaimana kehidupanku ketika jauh dari orang tua, belajar tanpa seragam, tanpa peraturan yang memaksa, kehidupan yang ditentukan oleh Masing-Masing individu. Oh betapa menyenangkan sekali. Aku berfikir ini adalah penantian yang menyenangkan , penantian yang Aku kira telah ku ketahui hasilnya, tak sabar Aku menunggu hari tersebut.

Akhirnya, hari yang kunanti telah tiba, hari yang akan merubah hidupku, hari yang akan menentukan Masa depan, hari yang akan membuat kedua orang tuaku tersenyum. Dengan semangat ku ambil modem dan kutancapkan ke laptop, booting yang hanya 7 detik terasa sangat lama bagiku, laptop sudah siap mengakses internet, ku arahkan pointer ke peramban web google chrome diiringi dengan bunyi double klik, ku ketik alamat yang ku tuju dan mulai menjelajah, tapi page not found,  sial modem yang jarang ku gunakan tidak dapat berfungsi dengan sempurna, ku cabut dengan paksa dan membuka sim card nya dengan tidak hati-hati, kembali ku tancapkan dan mencoba menyambungkannya dengan internet, Masih tidak bisa. Oh Tuhan apa yang harus kulakukan?apakah ini pertanda buruk?apakah ini akibat dari terlalu optimis. Ku coba memutar otak untuk keluar dari jalan buntu ini dan mencoba menghilangkan lamunan terburuk yang melintas 3 detik lalu di benakku, suara kebingungan dari Adik dan emakku menambah kepanikan ku, Aku terdiam sebentar menutup mata dan mencoba berfikir dengan jernih, setelah menjelajah jauh di fikiranku ku temukan ide untuk mengatasi masalah ini, segera ku beranjak ke rumah sepupuku dan bermaksud meminjam modem, sial, yang ku temui hanya sebuah pintu yang tertutup rapat yang jelas-jelas terkunci. Ku coba menghubunginya tapi selalu gagal, apa yang harus kulakukan?kataku dalam hati, dengan membawa tangan hampa kulangkahkan kaki kembali menuju rumah. Sesampai di rumah ku disambut dengan  pandangan sedih dari kedua orang tuaku.

“Mas,gimana kalau kita ke warnet saja.”kata Adikku mengusulkan jalan keluar

Ku bangkit dan langsung ku ambil kunci motor, ku ajak Adikku untuk menemaniku, setelah berpamitan ku melesat menuju warnet dan menghambur dengan gelapnya malam. Untungnya warnet yang kami kunjungi tidak penuh, segera ku Masuk dan langsung mengklik google chrome, selang berapa detik ku sudah mencocokkan user angka yang telah ku ketik dengan kertas yang ku bawa, dan Aku siap melihat Masa depanku, putaran loading yang lambat berubah menjadi hijau yang cepat berbanding lurus dengan jantungku, Aku mengamati dari atas ke bawah halaman yang disuguhkan disitu tertulis jelas namaku dan angka yang telah ku ketik tadi, semakin ke bawah ada tulisan yang berbunyi : “Maaf,Anda dinyatakan tidak lulus SNMPTN” Aku tidak percaya, ku tutup halaman itu dan ku buka lagi dengan memasukkan angka yang sama, tapi masih ku temukan tulisan yang sama, kuulangi sampai tiga kali dengan harapan terjadi overload data atau server error tapi lagi-lagi masih ku temukan tulisan yang sama, Aku tak sanggup lagi, sekujur badanku telah lemas dan hal yang paling buruk telah menimpaku, impian tentang Masa depan berubah menjadi kehancuran, impian tentang senyuman bahagia kedua orang tua berubah menjadi senyuman kekecewaan, Adikku mencoba menenangkan dan mengajakku berfikir positif tentang takdir Tuhan ini.bahwa semua ini pasti ada hikmahnya.

Senyuman kekecewaan dan tangisan menghiasi rumah ketika ku sampai di rumah, semua menangis tak terkecuali Adikku, Adik yang ku kira tegar dan keras menitikkan air mata ketika melihat kakaknya jatuh di jurang yang sangat dalam, Aku menangis  dan berdoa, Ya Allah, apa salah hamba sehingga Engkau membiarkan hambamu ini gagal, ya Allah ampuni dosaku….tak sempat ku selesaikan doaku tiba-tiba semua menjadi gelap seperti ada di dunia lain, apa yang terjadi? Pikirku, Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak, terdengar tangisan keluargaku menggema, Aku sedih dan berfikir Aku telah gagal, Aku telah menampar muka semua keluargaku, tiba-tiba terdengar suara Adikku disertai dengan raihan tangan.

“Mas,Mas…bangun katanya mau lihat hasil SNMPTN.”

Aku masih tidak percaya dengan suara itu, ku coba menutup telinga tapi suara itu semakin keras dan mendekat, akhirnya ku paksakan untuk membuka kedua mataku, kudapati diriku sedang terbaring di kamar dibawah temaram cahaya lampu, disitu ada Adikku menatapku dengan senyuman hangat. Apa yang terjadi? apakah semua ini hanya mimpi? Apakah impian terburuk tadi hanyalah mimpi? Jika itu benar terima kasih Tuhan yang menjadikan semua itu hanya mimpi..

Pengunjung Yang Bijak Adalah Yang Meninggalkan Jejak. Monggo Dikomeng Y(^_^)Y

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s